2025's International Movies Personal Favorite

1/12/2026

 

2025 menjadi tahun dengan maraknya film dengan genre horor mulai dari horor klasik seperti Guillermo del Toro dengan Frankenstein nya sampai Robert Eggers dengan Nosferatu, adapun beberapa horor fresh seperti Bring Her Back dan Sinners yang sangat apik. Walau begitu bukan cuma horor yang mendominasi tapi beberapa film indie dari luar dan dalam hollywood memberikan excitement tersendiri.

Sebagai sinefil kabupaten menjadi tantangan buat saya mendapatkan akses ke film-film festival. Semoga distributor bisa lebih adil mendistribusikan film-film ke daerah indonesia lainnya dan dengan keterbatasan akses beberapa ini film-film internasional 2025 favorit saya.


25. F1: The Movie (Joseph Kosinski)


24. Jay Kelly (Noah Baumbach)


Kalau nonton film-filmnya Noah Baumbach itu seperti kita sebagai penonton hadir di kehidupan karakternya, dan dengan #JayKelly dia memberikan magic itu kembali.
saya beneran seperti ikut campur ke kehidupan karakter Jay Kelly si aktor hebat dengan segala ketenaran, apresiasi, dan kehormatannya tapi tetap merasa kurang "penuh" dalam hidupnya dan mencoba menatanya kembali yg diperankan apik oleh George Clooney, dan terdapat banyak bintang menjadi cameo yg tidak sekadar "nempel" tapi jg memberikan impact ke karakter utamanya terlebih untuk penampilan Adam Sandler yg terasa ringan tapi menonjol.
Noah Baumbach dan Emily Mortimer memberikan rasa "kosong" tanpa terlalu depresif ke karakternya dan tetap memberikan rasa menyesal, dan manis di saat yg sama dengan ringan dan humanis.


23. Nosferatu (Robert Eggers)


22. Train Dreams (Clint Bentley)


Clint Bentley shows the stoic life with romantic and heartbreakingly beautiful. the more i watch the film the more i feel like not only witnessing but also continue to be in Robert Grainier's lonely and super longing life that feels empty inside but also peaceful with Joel Edgerton's melancholy performance.
with the sad narrative but the beautiful cinematography and soft jump cut makes me feel like im a part of Robert's eyes to see the world changing from time to time and somehow indirectly i get the good and warm advice about life. it is so achingly beautiful.
the type of film that you don't need to think what comes next, just immerse yourself with beautiful visual, aching sounds, and feel all the emotions.

21. Avatar: Fire and Ash (James Cameron)


No notes for super stunning visual. James Cameron knows how to play the big budget and makes art.
kemewahan visual, dan scoring yang memanjakan panca indera sayangnya tidak dialiri dengan plot yang lebih kompleks membuatnya seperti menonton film pertama dan keduanya hanya perbedaan alam dan karakter saja, memang tidak buruk hanya James tidak memberikan sesuatu yg melekat diingatan saya setelah kelar menonton filmnya, bahkan emosi yg diberikan juga terasa setengah hati.
tentu bukan sekuel yg lemah tapi saya hanya berharap bisa mendapatkan sesuatu yg lebih kompleks.


20. Materialists (Celine Song)


THANK YOU CELINE SONG FOR SHOWING ME THE PERSPECTIVE WHY SOME WOMEN CHOOSE BROKE MAN OVER RICH ONE LIKE MY MOTHER DID I SWEAR UNTIL THIS DAY I ACTUALLY SEEING HER PERSPECTIVE AND AFTER MANY YEARS I DONT UNDERSTAND HER NOW I KNOW 😭
AND CELINE THANK YOU FOR GIVING ME THIS DIALOGUE SO MATURE, SO HUMANE, SO SMART, SO DELICATE, SO UNJUDGMENTAL AND SO BEAUTIFUL. CELINE THANK YOU FOR OPENNING MY MIND.


19. 28 Years Later (Danny Boyle)



18. Sunshine (Antoinette Jadaone)



17. Weapons (Zach Cregger)


Suka bagaimana Zach Cregger tarik ulur ketegangan yg diberikan sepanjang film yg mana bikin misterinya tetap terjaga dengan atmosfer eerie dan haunting memberikan sensasi tidak nyaman selama menonton tapi diimbangi dengan komedi yg menggelitik lalu puncaknya di klimaks yang total madness.


16. Wake Up Dead Man (Rian Johnson)


Rian Johnson is truly awesome storyteller man i gotta tell you no one can do what he does.
di seri ketiga ini seperti seri satu dan dua yg masih berlayer, twisty dan dieksekusi brilian tapi yang ketiga yang paling emosional dan penuh dengan hati.
tiap shot dan lighting yg diarahkan efektif menguatkan ceritanya, skrip satir yg lucu dan misteri yg twisty membuat tiap scene sangat menggugah ditonton tanpa distraksi.
dan tentu juga penampilan cast-nya, Daniel Craig kembali menjadi Blanc yg karismatik dan lucu, Josh O' Connor yg tidak cuma jadi pendeta seksi tapi jg penuh empati, and ofc the stellar Glenn Close.


15. Thunderbolts* (Jake Schreier)


#Thunderbolts* is CHAOTIC GOOD! Marvel with big hearts is back!
Pengemasan cerita superhero baru dengan kesehatan mental menjadi spotlight tersendiri untuk #Thunderbolts* atau sekarang #TheNewAvengers yg membuatnya sungguh humanis dan grounded. skrip humoris dan menyentuh dari Eric Pearson dan Joanna Calo memberikan emosi yang berarti ke penonton atau setidaknya untuk saya yang sedang merasakan apa yang dirasakan karakter-karakternya.


14. Sorry, Baby (Eva Victor)



13. Mickey 17 (Bong Joon-Ho)


With Bong Joon-Ho we trust.


12. Left-handed Girl (Shih-Ching Tsou)



11. Homebound (Neeraj Ghaywan)



10. Bring Her Back (Michael Philippou, Danny Philippou)


HOLY MOTHER!


9. Flow (Gints Zilbalodis)



8. Nickel Boys (RaMell Ross)


Film yang mengangkat isu rasisme hampir selalu bisa menyayat hati, begitupun dengan Nickel Boys ini dan didukung oleh performa apik para cast-nya dan sinematografi dari Jomo Fray yang cerdas dan berhasil memberikan POV menohok yang akan melekat lama dipikiran setelah film ini berakhir.


7. It Was Just An Accident (Jafar Panahi)



6. Conclave (Edward Berger)


Menegangkan dari awal hingga akhir yg didukung oleh perpaduan sinematografi, scoring dan akting cermat bikin penonton tidak bisa lepas dari detailnya dan dengan plot yg cukup kontroversial membuat #Conclave makin mendebarkan.


5. Sinners (Ryan Coogler)


Went blind before watch #Sinners yg awalnya kupikir film action karena posternya tapi ternyata horor yg tidak cuma Michael B. Jordan yg cakep tapi alur cerita, editing dan scoringnya juga.
Ryan Coogler cerdik banget menampilkan horror gothic sebagai metafora penindasan kulit hitam era 30an, dan iringan musik Blues yg kental akan budaya kulit hitam dan scoring racikan Ludwig Göransson merdu tapi mencekam sebagai penguat keseluruhan alur cerita.


4. No Other Choice (Park Chan-wook)


Park Chan-wook kembali memberikan hubungan cinta yang tidak biasa, yang di menit-menit awal pertama membuat penonton bingung apa yang mau dibawa olehnya melalui rentetan dinamika cerita dan karakternya, lalu pelan tapi pasti Park Chan-wook memunculkan kejadian-kejadian yg bisa menguji moral penonton atas apa yg terjadi dengan karakternya. tontonan tajam tentang kapitalis merenggut kemanusiaan dengan komedi gelapnya yang didukung penampilan solid dari cast-cast nya terutama utk Lee Byung-Hun dan Son Ye-Jin.
oh perlu saya highlight juga camera works yang tidak cuma cantik tapi jg efektif memvisualkan cerita secara utuh.


3. One Battle After Another (Paul Thomas Anderson)


Memang tidak banyak film Paul Thomas Anderson yg saya tonton tapi sejauh ini #OneBattleAfterAnother adalah yg paling menyenangkan.
drama keluarga, cinta segitiga, action-thriller sampai politik amerika dibawa-bawa sama PTA jadi satu tapi walau dgn banyaknya elemen itu bukannya saling tumpang tindih malah menjadikannya sangat menyenangkan ditonton bahkan dgn durasi 3 jam panjangnya yg juga ditambah lelucon yg sangat asik  (saya bahkan cuma sekali meleng dari layar) dan dukungan akting dari aktor ternama sampai pendatang baru yg tidak cuma fresh tapi juga menonjol bikin filmnya mudah diingat.


2. Frankenstein (Guillermo del Toro)


Setelah Pinocchio, Guillermo del Toro kembali mengadaptasi cerita klasik #Frankenstein dengan caranya sendiri yang seperti biasa dengan gaya gothic, misterius, romantis dan elegannya.
adaptasi ini bukan sembarang adaptasi karena terlihat sekali Guillermo del Toro memberikan sisi kemanusiaan yg lebih kuat untuk ceritanya, mengajak penonton untuk berpikir dan menghayati lagi arti kehidupan dan kematian, relasi pencipta dan makhluknya, atau sekadar hubungan rumit ayah dan anak tergantung kita sebagai penonton menginterpretasikannya.
lagi-lagi karya Guillermo del Toro yg super solid, dari cerita, grande production value dan juga performa cast kuat — Oscar Isaac paten menggambarkan Victor yang ambisius, gila tapi rapuh dan Jacob Elordi yang tampil maksimal menjadi monster Frankenstein yang mengerikan, polos dan penuh rasa sepi (penampilannya yg paling apik).


1. No Other Land (Hamdan Ballal, Rachel Szor, Yuval Abraham, Basel Adra)


Teror demi teror tidak pernah habis di tanah Palestina dan ini ditampilkan mentah, penuh teriakan, kepasarahan dan ketidakpastian akan kemerdekaan warganya.
setelah menonton sulit rasanya saya menerima kalau ini terjadi di dunia nyata, betapa buruknya manusia dengan asas keserakahan dan ketamakan dalam menindas manusia lemah.
terdiam, merenung dan marah setelah melihat apa yang terjadi, tontonan akan realita yang benar-benar menguras emosi dan tenaga.


Honorable Mention









You Might Also Like

0 comments

Subscribe