2025's Indonesian Movies Personal Favorite

1/12/2026

 

Senang bagaimana film Indonesia makin berani, dan berkembang salah satunya dengan membaiknya industri animasinya, Jumbo bukan hanya membuktikan dan tapi juga memberikan optimisme tersendiri dengan bukan hanya kualitasnya yang sangat apik tapi juga minat penonton terbukti dengan meledaknya penonton lalu juga dengan film bertema time looping, ya memang bukan yang pertama tapi eksekusi film Sore: Istri Dari Masa Depan yang pintar menjadikannya film yang fresh, dan mampu menarik peminatnya di Indonesia.

Dengan begitu saya sebagai penikmat film menjadi sangat bahagia melihat optimisme dan membuatku penasaran dengan industri film Indonesia selanjutnya.

Without further ado ini film-film Indonesian 2025 terfavorit buatku:

10. Rangga dan Cinta (Riri Riza)

Betul jika Rangga dan Cinta tidak memberikan hal baru untuk AADC tapi sepanjang saya menontonnya jelas memberikan nostalgia yang seru, chemistry El Putra dan Leya Princy sebagai Rangga dan Cinta di AADC versi musikal ini cukup manis sehingga tidak membosankan dan oh ternyata Miles Films tahu kalau bukan hanya film AADC yang ikonik tapi soundtrack-nya juga dan sepertinya ini yg melatarbelakangi dibuatnya Rangga & Cinta dengan arahan Riri Riza, walau dari segi cerita tidak ada yg berubah dari versi orisinalnya tapi caranya membuat filmnya jadi musikal sentuhan Riri surprisingly masih memberikan lugunya cinta remaja dari pasangan ikonik ini dengan sedikit cringe tapi manis tanpa mengurangi esensi AADC orisinalnya, dan aransemen versi kekinian semua soundtrack-nya benar-benar ditonjolkan disini jadi berasa modern, lalu perlu jg di highlight kehadiran Harleyava Princy yg harus mengemban beban berat menjadi karakter Cinta yg ikonik itu, yg bagiku sukses diperankan olehnya bahkan beberapa gestur dan mikro ekspresinya mengingatkan kembali akting Dian Sastro.


9. Pengepungan di Bukit Duri (Joko Anwar)


Joko Anwar mengambil cerita dari peristiwa kelam terhadap etnis cina masa lalu untuk #PengepungandiBukitDuri yg membuatnya cukup keras menyentil isu sosial dan bisa dibilang karyanya paling provokatif yg gamblang dilihatkan tanpa basa-basi. performa para cast tampil prima terutama Omara Esteghlal yg ganas & sukses bikin naik darah.


8. Qodrat 2 (Charles Gozali)



7. Perang Kota (Mouly Surya)


Saya suka bagaimana Mouly Surya memberikan cerita drama percintaan yang erotis di era kolonialisme tapi juga berapi-api. Semua ditampilkan cantik, dramatis dan berani dalam bercerita.


6. Agak Laen: Menyala Pantiku (Muhadkly Acho)


Sukses dengan film pertama Agak Laen kembali dengan sekuel yang punya cerita dan genre yang juga berbeda tapi komedi fresh, dan masih sangat lucu nyatanya mampu menarik kembali kesuksesan film pertamanya, di Agak Laen: Menyala Pantiku, Muhadkly Acho menghadirkan genre komedi-detektif yang masih punya punchline komedi yang lucu tapi juga humanis.


5. 1 Kakak 7 Ponakan (Yandy Laurens)


Sebelum Sore: Istri Dari Masa Depan, Yandy Laurens juga menghadirkan film drama 1 Kakak 7 Ponakan yang juga masih menyentuh, apik, dan juga dieksekusi pintar sehingga cerita sandwich generation yang diangkat akan relate ke penonton yang mangalami.


4. Jumbo (Ryan Adriandhy)



3. Tinggal Meninggal (Kristo Immanuel)



2. Sore: Istri Dari Masa Depan (Yandy Laurens)


I usually don't like time-looping film cause my brain is too rot to cope the repetitive thing but Sore is truly amazing yall. I love every second of it! Need to rewatch to pay attention to detailssss...
digantinya Tika ke Sheila tidak mengecawakan sama sekali.
Wajar kalau pada akhirnya banyak jg yg tidak suka Sore ini karena repetitif dan ending anti-kilmaks tapi kalau benar-benar memperhatikan karakter-karakter di film ini ditulis rapi, cantik dan untuk film indo ini tuh revolusioner imo dan beruntungnya diperakan oleh Dion dan Sheila yg chef's kiss.
I will always defend this movie even when you think the plot is too boring for you but you will still amaze the cinematography and the score, stunningly aching but somehow warming.


1. Pangku (Reza Rahadian)



Sebagai orang yg dekat dengan kehidupan pesisir pantai (walau tidak pernah tahu "kopi pangku") rasaku apa yg dihadirkan Reza Rahadian di #Pangku ini amat presisi bagaimana bentuk dari sistem "lingkaran setan" kehidupan marjinal pesisir.
Slow pace membuat filmnya intim didukung oleh arahan, make up, sinematografi dan set bikin nuansa sesak, panasnya angin laut, ruang gerak terbatas terasa ke penonton, lalu dengan penulisan narasi lembut dari Reza dan Felix K. Nesi yg tidak banyak dialog tapi berhati-hati bikin filmnya berhati besar dan simpatik memperlihatkan ibu tunggal dan kehidupan kerasnya, didukung performa Claresta Taufan yg tidak perlu adanya luapan emosi menggelegar tapi ekspresi dan kuatnya tatapannya bikin empati ke penonton melonjak naik, juga Christine Hakim yg seperti biasa naturally flawless, dan bocah pencuri hati Shakeel Fauzi.
Reza tidak meromantisasi kehidupan marjinal (karena memang tidak perlu), dia menggambarkan apa adanya, sederhana, raw, tidak berlebihan, dan keras tapi rapuh.
Bravo untuk Reza Rahadian karena kita tahu bagaimana perfeksionisnya Reza dalam berakting tapi sikap perfeksionisnya dibawa dalam penyutradaraannya juga.

Ada beberapa film yang juga menarik perhatianku dan tidak masuk 10 besar, sehingga saya masukkan ke dalam list honorable mention seperti di bawah.

Honorable Mention











You Might Also Like

0 comments

Subscribe